Tak Ingin Ada Anak Tertinggal Imunisasi, Poltekkes Mamuju dan Dinkes Polman Gelar Diseminasi, Optimalisasi dan Validasi Data Sasaran Imunisasi Kejar
POLEWALI MANDAR – Tim INEY Poltekkes KemenkesMamuju bersama Dinas Kesehatan KabupatenPolewali Mandar menggelar kegiatan Diseminasi, Optimalisasi dan Validasi Data Sasaran Imunisasi Kejar pada Kamis, 22 Oktober 2026. Bertempat di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar, pertemuan ini membahas kondisi data imunisasi, memetakan kendala di lapangan, sekaligus menyepakati langkah validasi data sasaran.
Kegiatan dihadiri jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar, termasuk Kepala Bidang, perwakilan Puskesmas, serta Tim INEY Poltekkes Kemenkes Mamuju. Materi dipaparkan oleh Wahidin dari Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar dan Irma Muslimin, M.Kes., dari Poltekkes Kemenkes Mamuju.
![]() |
Foto 1. Suasana pertemuan diseminasi dan validasi data sasaran imunisasi kejar di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar.
Dalam paparannya, Wahidin menyampaikan gambaranpelaksanaan imunisasi di 20 Puskesmas se-Kabupaten Polewali Mandar.Paparan tersebut menjadidasar diskusi bersama untuk menemukan penyebab sasaran yang belum terjangkau dan menentukan wilayah yang perlu mendapat pendampingan.
Pemetaan kendala menunjukkan bahwa penyebab terbanyak sasaran tidak terimunisasi adalah anak yang sedang sakit, yakni 1.162 sasaran atau 28,3 persen. Urutan berikutnyaadalah penolakan dari anggota keluarga sebanyak 624 sasaran atau 15,2 persen. Ada pula sasaranyang sedang ke luar daerah serta yang langsung pulang setelah menimbangdi posyandu. Pekkabata dan Pambusuang menjadidua wilayah dengankendala terbanyak, menyumbang lebih dari separuh seluruh kendala yang terpetakan.
Sesi diskusiberlangsung dinamis. Perwakilan Puskesmas berbagi pengalaman menghadapi penolakan imunisasi. Di wilayah Mapilli, misalnya, sebagian masyarakat lebih mengikuti arahan tokoh agama, sehingga edukasi dinilai perlu melibatkan majelis ulama, tidak cukup dari petugas kesehatan saja. Di wilayah yang sama, sejumlah orang tua sempat menolak akibat hoaks yang beredar di grup WhatsApp. Setelah dikumpulkan dan diberi edukasi,sekitar 90 persen di antaranyaakhirnya bersedia anaknyadiimunisasi.
Persoalan pencatatan juga mengemuka. Petugas mengeluhkan kendala penginputan data di aplikasiASIK, mulai dari pemeliharaan sistem,perpindahan server, hingga masalah NIK. Dalam empat jam, seorang petugas disebut hanya mampu memasukkan empat sampai enam data. Selain itu, dibahaspula laporan KejadianIkutan Pasca Imunisasi (KIPI) di wilayah Wonomulyo, yang menjadi kekhawatiran utama para juru imunisasi.

Foto 2. Peserta menyampaikan tanggapan dan masukan dalam sesi diskusi.
Menanggapi hal tersebut, Tim INEY Poltekkes Kemenkes Mamuju menyampaikan bahwa validasi data sasaran memang menjadi dilema dalam pelaksanaan program. Karena survei membutuhkan beberapa hari di lapangan dan terkendala jarak, tim akan memfokuskan survei pada satu lokus, yaitu wilayah Limboro. Di wilayah ini juga telah dibentuk kader champion yang bekerja di tiga lokus prioritas.
Terkait teknis validasi, Wahidin menyarankan agar tim turun langsung ke Puskesmas. Pencocokan data dilakukan dengan mengambil minimallima data lalu dibandingkan dengan buku kohort, dengan batas waktu setiap tanggal 5. Ia juga mendorong adanya penelitian lanjutan,terutama setelah ditemukannya kasus rubella yang berujung kebutaandalam dua tahun terakhir.
Kepala Bidang Dinas Kesehatanmenegaskan bahwa sasaranINEY sejalan denganprogram Dinas Kesehatan, yaitu meningkatkan capaianimunisasi dan menurunkan angka stunting. Ia berharap hasil penelitian Poltekkesdi Polewali Mandar dapat diserahkan kepada Dinas Kesehatan agar bisa ditelusuri dan dicarikan solusinya. Ia juga meminta jadwal pendampingan disampaikan lebih awal supaya Dinas dapat menugaskan SDM yang tepat.
Senada dengan itu, Irma Muslimin menekankan pentingnya informasi rencana kegiatan disampaikan jauh hari sebelumnya. Ia juga mencatatbahwa sebagian petugas
Puskesmas masih perlu penguatan pemahaman, baik dalam pencatatan di ASIK maupun pencatatan manual.
Pertemuan ditutupdengan sejumlah kesepakatan tindak lanjut. Di antaranya validasidata sasaran langsung ke Puskesmas, survei pemetaan alasan tidak imunisasi di Limboro, pelibatan tokoh agama dalam edukasi khususnya di Mapilli, serta penguatan kader untuk menindaklanjuti KIPI dan melawan hoaks. Poltekkes dan Dinas Kesehatan juga akan menjajaki hibah penelitian imunisasiuntuk tahun 2027, sementara kegiatanpendampingan direncanakan dimulaisejak awal tahun agar evaluasidapat berjalan optimal.
Melalui kolaborasi ini, Poltekkes Kemenkes Mamuju dan Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar berharap data sasaran imunisasi semakin valid, sehingga anak-anak yang tertinggal imunisasi dapat segeradijangkau dan terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
